Lhokseumawe – Program Studi Teknik Sipil Universitas Malikussaleh (Unimal) menggelar International Class Civil Engineering bertema GIS Application for Flood Mitigation di Gedung Kuliah Umum A Unimal, Senin (5/10/2026). Kelas internasional ini menjadi bagian dari rangkaian Joint Cultural Camp Fall (JCCF) 2026 yang tengah berlangsung di Unimal.
JCCF 2026 merupakan program mobilitas dan pertukaran budaya internasional. Program ini membawa mahasiswa dari berbagai negara untuk mengenal langsung kearifan lokal Aceh. Para peserta juga diajak memahami kehidupan sosial serta suasana akademik di perguruan tinggi setempat.
Dalam sesi tersebut, Prodi Teknik Sipil Unimal menerima delegasi mahasiswa internasional dari tiga negara. Delegasi terdiri atas mahasiswa INSA Lyon dari Prancis dan Northern Alberta Institute of Technology (NAIT) dari Kanada. Mahasiswa asal Kamboja turut hadir dalam kelas tersebut. Mereka mengikuti perkuliahan bersama mahasiswa Teknik Sipil Unimal. Materi disampaikan langsung oleh dosen Teknik Sipil Unimal, Fadhliani, S.T., M.Eng.
Fadhliani mengangkat studi kasus sejarah banjir dan mitigasi bencana di Kabupaten Aceh Tamiang. Daerah ini merupakan salah satu wilayah yang terdampak parah saat banjir besar melanda Aceh pada akhir 2025. Pemaparan tersebut mengulas kondisi geografis Aceh Tamiang yang dilalui aliran sungai besar. Ia juga membedah aspek perencanaan yang perlu dibenahi agar dampak banjir serupa dapat ditekan pada masa mendatang.
Menurut Fadhliani, Sistem Informasi Geografis atau Geographic Information System (GIS) berperan penting dalam setiap tahap mitigasi. Teknologi ini mampu menggabungkan data curah hujan dengan data ketinggian lahan dalam satu peta. Data tata guna lahan dan jaringan sungai turut dapat ditumpangkan untuk memetakan kawasan rawan genangan.
"Melalui GIS, kita bisa membaca pola banjir secara menyeluruh. Kita dapat melihat dari mana air datang dan ke mana air akan mengalir. Informasi ini menjadi dasar dalam menentukan langkah antisipasi sebelum bencana terjadi," ujar Fadhliani di hadapan peserta.
Ia menjelaskan bahwa pemanfaatan GIS tidak berhenti pada tahap pencegahan. Peta hasil analisis juga dapat digunakan untuk menentukan jalur evakuasi dan lokasi titik kumpul warga. Pada fase pascabencana, data spasial membantu pemerintah mengidentifikasi infrastruktur yang rusak. Prioritas perbaikan jalan, jembatan, hingga saluran drainase dapat ditetapkan berdasarkan data tersebut.
"Pemulihan infrastruktur Aceh pascabencana harus dirancang lebih tangguh. Kita tidak ingin sekadar membangun kembali seperti semula. Infrastruktur baru perlu mempertimbangkan risiko banjir yang mungkin datang lagi," katanya.
Materi tersebut menarik perhatian para mahasiswa internasional. Sebagian dari mereka memiliki latar belakang keilmuan di bidang Disaster & Emergency Management. Mereka menunjukkan antusiasme tinggi untuk memahami cara masyarakat dan insinyur lokal merespons krisis iklim serta persoalan tata air di Aceh.
Sesi diskusi berlangsung interaktif. Mahasiswa internasional mengajukan sejumlah pertanyaan seputar proses pemulihan Aceh Tamiang setelah banjir. Mereka juga berbagi pengalaman penanganan bencana di negara asal masing-masing. Mahasiswa Teknik Sipil Unimal memanfaatkan kesempatan ini untuk bertukar pandangan secara langsung dengan rekan sebaya dari Prancis, Kanada, dan Kamboja.
Kehadiran delegasi JCCF 2026 menjadi bagian dari upaya Prodi Teknik Sipil Unimal membuka ruang kolaborasi internasional. Melalui kegiatan ini, mahasiswa lokal diharapkan memperoleh perspektif lebih luas dalam merancang infrastruktur mitigasi bencana. Infrastruktur yang dirancang tidak hanya dituntut kuat secara struktur. Aspek keberlanjutan juga menjadi pertimbangan penting.
Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama antara pemateri, mahasiswa Teknik Sipil Unimal, serta delegasi mahasiswa internasional dari Prancis, Kanada, dan Kamboja.